Selasa, 14 Oktober 2014

Trip Karimun Jawa: Perjalanan Melelahnyenangkan

Halo blogger, ketemu lagi. Aku mau cerita liburan di tengah-tengah kerjaanku nyekripsi. Haha
Weekend kemarin, aku bersama keluarga 3rd Young Queer Faith and Sexuality Camp berkunjung ke pulau di sebrang Jepara, Jawa Tenggah. Yap, pulau Karimun Jawa yang mempesona.
Pelabuhan di Pantai Kartini, sebelum berlayar ke Karimun Jawa.
Hari pertama, kita berkumpul di Semarang untuk kemudian langsung bertandang ke Jepara. Sekitar 3 Jam perjalanan ke Jepara dengan bis kecil pintu dua, karena untuk ke Jepara hanya ada itu transportasi yang bisa menghemat kantong. Kalau kamu, mau lebih nyaman mungkin bisa menggunakan travel.
Sedikit gambaran ketika naik bis menuju Jepara ini, tempat duduknya cukup untuk 25an orang, tetapi buka bis kece kalau tidak menaikkan penumpang, sedangkan bis sudah penuh. Alhasil, ya ada yang berdiri dan sudah pasti desak-desakan. Naik bis cuma Rp 15.000 tapi berdesak-desakan, angin cempoi-cepoi dan tanpa asuransi atau travel Rp 50.000. Bisa dipersiapkan ya, Gaes. Mau naik bis apa travel.
Sampai Jepara langit sudah gelap, kita pun tidak turun di terminal sebagaimana mestinya. Kita turn di alun-alun Jepara. Oke. Tidak buruk kok, Gaes. Banyak jajanan dan makanan buat mengisi perut. Setelah makan, kita ke Pantai Kartini, karena kita besok harus berangkat pagi-pagi dari pelabuhan dekat pantai menuju Karimun Jawa (sudah tidak sabar pokoknya). Menginap semalam di  Kota Baru home stay, area Pantai Kartini, memberi kesan tersendiri. Arsitektur home stay bergaya Bali, membawa angan terbang ke Pulau Dewata. Apalagi bisa memandang patung kura-kura dari balkon atas home stay dengan jelas, itu keren, Gaes.
Feri pose di depan Kota Baru home stay, Pantai Kartini
Patung Kura-Kura: Pemandangan dari atas balkon home stay
Oh ya, kita sebenarnya bukan sekadar berlibur, lho. Ada agenda evaluasi kemah yang sudah terlakasana awal September kemarin. Evaluasi pertama kita lakukan di Home Stay Kota Baru itu. Setelah cukup larut malam, kita beristirahat dan akan melanjutkan evaluasi di perjalanan besok harinya. (catatan saja, air di home stay tersebut acinnn, kaya keringat kamu… hhaha)
Keesokan harinya, kita sudah siap pukul 5 pagi, tanpa mandi dan bermodalkan parfum. Berangkatlah kita ke pelabuhan, biar tidak tertinggal Kapal Feri-nya. Sambil menunggu agen travelnya, kita sempat mengisi perut. Saran saja buat yag belum pernah naik kapal, minum obat, biar tidak mabuk laut.
Tiket kapal Feri Rp 42.000
Cukup dengan Rp 42.000 kita sudah bisa menikmati perjalanan dengan kapal Feri menuju Karimun Jawa. Murah kan? Tapi ya itu, cukup lama buat sampai sana, butuh waktu 5 Jam kalau tidak macet (lho, kok macet), maksudnya kalau lancar. Saran lagi nih dari aku, jangan lupa bawa sunblock, kaca mata hitam dan kalau perlu bawa payung kalau kamu mau duduk di bagian atas kapal, soalnya beh, panas banget. Bisa juga, lho, kamu nyewa tiker hanya dengan Rp 10.000.
Sumpah tapi keren banget pemadangan dari atas kapal, bisa foto-foto ala Film Titanic lah pokoknya.
Waktu 5 jam yang cukup lama, akhirnya kita manfaatkan untuk evaluasi tahap kedua biar sampai Karimun Jawa bisa lebih banyak asyik-asyiknya. Hhehe
Seru: Narsis di atas Kapal Feri
Baru setelah kita berada di tengah laut dan terik matahari tidak bisa lagi dihalangi buat menyambar kulit. Kita pun mencari keteduhan.
Sekian jam berikutnya, pulau Karimun Jawa kelihatan dan itu Indah banget.  Jadi keindahan negeri ini, manakah yang Kau dustakan? Rasa panas yang tadi dirasakan sudah terbalas dengan pemandangan amazing pulau kecil bernama Karimun Jawa.
Narsis: Gerbang Karimun Jawa
Gaes, jangan bayangkan hal-hal mewah kalau di sini. Keadaan alam yang memanjakan mata ini sudah cukup buatku untuk tidak mengharapkan hal lain. Hhehe
Narsis: Mobil pick up di depan penginapan kita
Kita dijemput mobil pick up menuju tempat penginapan. Jangan kaget ya, di sana listriknya belum nyala, lho. Karena listrik nyala dari jam 6 Sore sampai pagi. Istirahat sejenak dan berikutnya lanjut lagi buat snorkeling, melihat keindahan laut lebih dekat dengan mata. Kalau aku ceritaiin semua, kamu bakal ngiler deh, intinya bisa ngobrol langsung dengan ikan, berendam di air laut, sampai  munum air laut, hhaha itu menyenangkan. Meskipun tidak bisa renang, kamu tenang saja karena kita pakai pelampung dan ada mas-mas yang mendampingi, sekaligus yang akan mengabadikan gambar kita waktu di dalam laut. Bawa flasdiks aja buat nanti ngopi foto-nya.
Snorkeling di tengah laut Karimun Jawa
Snorkeling selasai, menuju penangkaran ikan hiu. Hanya sekarang harus bayar Rp 25.000 buat melihat hiu-hiu di sana, karena belum masuk paket wisata kita. So, jangan lupa bawa uang, ya.
Selepas perjalanan di laut selesai, kita makan di alun-alun Karimun Jawa. Banyak pilihan menu khas laut yang masaknya on the spot. Dan perlu dicatat, harganya murah banget kalau dibandingkan dengan warung makan sea food.
Bakar-bakar Ikan, awas asepnya Bu. hhaha 

Lezat: Ikan Bakar 
Malam harinya, kita lanjut evaluasi di CafĂ© Amoera dekat penginapan. Dengan pencahayaan secukupnya, karena listrik di sana sangat mahal. Aku juga sempat tanya penduduk sana, harga BBM subsidi bisa mencapai Rp 10.000. Malam itu pula kepanitiaan 3rd Young Queer Faith and Sexuality Camp dibubarkan. Sedih, senang, lega, bangga, campur-campur deh pokoknya rasa malam itu. Ingat kata-kata Jeje, yang insyaAllah bakal jadi Koordinator YIFoS berikutnya menggantikan Kak Vica (#perezzz), ini memang akhir panitia tapi awal perjuangan, proses akan tetap berlanjut. Wiuh Jeje ini memang keren sekali. Tepuk salut  buat semuanya, yuk. Prok…prok…prok  Salut Salut, Prok…prok…prok  Salut Salut, Prok…prok…prok  Saluuuttttttt. J
Malam itu kita tidur dengan nyenyak dan bersiap pulang besok paginya.

Perjalanan singkat yang melelahnyenangkan bersama keluarga tercinta, tidak hanya keindahan alam yang didapat. Kebersamaan adalah yang terpenting dalam perjalanan ini. Foto-foto, panas-panasan, bercanda, berbagi cerita, berbagi senyum, cukup mengobati kangen. Sampai bertemu di trip berikutnya gaes.

Kamis, 25 September 2014

#101factaboutme ala Tintin

Beberapa hari ini rame sekali di sosial media dengan #20factaboutme, bahkan ada temen aku yang akhirnya bikin #100factaboutme. gokil!

So, aku juga mencoba challenge itu dengan #101factaboutme di sela-sela bab 4 skripsiku. *plakkk

  1. Punya nama panggilan Tintin, lucu kan? Aslinya Tinwarotul Fatonah, yang kata banyak orang cukup susah diucapkan. apa iya sih?
  2. Dari kecil sampai sekarang tetap jadi anak kebanggaan keluarga, sampai malu sendiri, soalnya sekarang sering ngerasa down.
  3. Nggak penah tidur sendiri kalau di rumah, selalu ditemenin ibu. hhehe
  4. Suka banget makanan pedes, tapi nggak tahan pedes. 
  5. Pelihara kucing dari kecil, sampai nggak apal nama-nama kucingku terdahulu.
  6. Tidak pernah TK. langsung masuk SD umur 5 tahun.
  7. Aku sering jadi juara kelas lho, sampai MA (SMA).
  8. Waktu kecil sering sakit-sakitan, tapi sekarang sehat banget (bisa lihat bentuk badanku). LoL
  9. Selalu tidak sesuai harapan buat masuk sekolah. Pingin di SMP, ortu nyuruh MTs, Pingin SMA, ortu nyuruh MA. Ya sudahlah.. lupakan, yang peting happy ending.
  10. Dapat Beasiswa S1nya, Alhamdulillah.
  11. Masih memperjuangkan gelas S1 di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, IAIN Walisongo Semarang.
  12. Suka nanyain alias kepo ke orang, tapi nggak suka dikepoin. Apalagi kalau di rumah, untung ada ibu yang mendadak jadi asisten buat jawab pertanyaan saudara atau tetangga.
  13. Suka nulis sejak kuliah.
  14. Kata Kiky Kikok sih, aku ini pakar cinta. Hanya saja sering galau.
  15. Sering dimirip-miripin sama safitri dan ririn. Padahal kan beda. :-p
  16. Setiap ada event tertentu, pasti ada orang yang bilang aku mirip dengan seseorang yang mereka kenal, entah adek, teman, ponakan, sampai ibunya. Hadewhhh untung nggak mirip bapaknya.hhaha
  17. Pingin punya kucing Persia tapi belum kesampaian. Kasian ya.
  18. Nggak suka sama anak kecil.
  19. Suka mojok buat nyari inspirasi. Sendirian lho, Cin, aku mojoknya.hhaha
  20. Trauma sama LDR-an.
  21. Hobi begadang, walaupun nggak ngapa2in. kaya malam ini.
  22. Nggak bisa hidup tanpa gadget.
  23. Mending nggak makan buat beli pulsa modem.
  24. Nggak pernah suka make up.
  25. Selalu kagum dengan cowok gondrong yang kece.
  26. Cita-citaku berubah setiap tahunnya, semoga yang terakhir ini bisa istiqomah.
  27. Pingin S2 di Jerman (amien).
  28. Suka bicara sama my Sonson, bonekaku kalau sudah putek banget.
  29. Berusaha biar nggak cempreng kalau di acara formal.
  30. Kata Bunda Anna Marsiana, suaraku kaya kartun.
  31. Takut sendirian kalau kemana-mana.
  32. Ijo dan coklat, warna favoritku.
  33. Pingin jadi Dubber.
  34. Nggak suka makan mie instan kalau nggak kepaksa (#deritaanakkos)
  35. Pernah mau nyobain expresso, tapi nggak jadi setelah tahu pahit banget.
  36. Suka Kopi manis.
  37. Doyan banget makan tomat.
  38. Kagag bisa masak, pinginnya dimasakin terus.
  39. Suka nimbrung makan teman, #kode Kiky. Hhehe
  40. Dibilang gendut, gembrot, tapi selalu ngerasa sexy.
  41. Berjerawat ketika kuliah. Sekarang tinggal bekasnya.
  42. Bangga karena pernah berjerawat.
  43. Punya wajah polos yang ngangenin. #perezzz
  44. Lebih suka dibeliin daripada beli sendiri (bukan berarti ngirit, lho, hanya saja kalau dikasihkan ada kanangannya).
  45. Nggak bisa bohong sama ortu. #serius
  46. Jarang pulang ke rumah, sampai ibu nyuruh pulang #durhaka.
  47. Betah banget di Semarang, padahal sampai sekarang belum nemuin yang spesial di sono.
  48.  Suatu saat pingin tinggal di Yogyakarta.
  49. Masku nikah sama teman sekelasku. Dan aku nggak pingin nikah sama kakaknya temanku.
  50. Suka daerah pegunungan daripada laut, walaupun aku orang dataran tinggi.
  51. Pernah suka sama cowok berkumis. Lucu aja.
  52. Waktu OSPEK MABA, pernah ketonjok orang berebut apel. Benci banget kalo inget waktu itu.
  53. Suka berantakin kamar, apalagi kalau lagi DL tugas kuliah, buku bisa sampai mana-mana.
  54. Suka ngancurin lirik lagu orang. Ada kepuasan tersendiri.hahha
  55. Cenderung diem kalau di tempat baru.
  56. Aku adalah cewek yang berhijab.
  57. Suka nempel-nempel tulisan di dinding kosan tentang apa saja.
  58. Paling males kalau diajak ortu ke pasar.
  59. Tidak suka keramaian.
  60. Aku pernah naksir sama bapak dosenku gara-gara senyumnya.
  61. Impian masa kecilku adalah punya rumah di tengah hutan kaya putri salju.
  62. Lebih suka spongebob squerpant daripada upin-ipin.
  63. Aku pernah sakit gara-gara pacar selingkuh. Itu menjijikan sekali, semoga ggak terulang lagi.hhaha
  64. Takut makan telur, soalnya bisa bikin bisulan. Mitos sih, Cuma kadang beneran.
  65. Punya kebiasaan mandi malam sebelum tidur (kaya orang Jepang).
  66. Lebih suka londry daripada nyuci sendiri.
  67. Nggak bisa tidur di ruang gelap.
  68. Dari kecil nggak pingin punya suami orang Jawa (tapi apa pun takdir Tuhan aku terima).
  69. Numpang baca di toko buku itu asyik, lho. Aku banget.
  70. Akhirnya, aku jadi pemimpin redaksi di majalah kampusku (meski di waktu yang tidak tepat).
  71. Suka cuap-cuap di MBS fm, radio kampus.
  72. Kalau lagi sedih, suka lampiasin nonton film/drama melooo. Biar nggak kelihatan nangisnya karena galau.
  73. Terkadang bayangin dijemput pacar buat makan bareng (ngenes banget) #akuRakpo2.
  74. Pernah belajar Qori, tapi nggak bisa sampai sekarang.
  75. Oh ya, kadang lupa cuci tangan kalau baru mainan sama Meong.
  76. Lebih suka foto sama kucing daripada foto sendiri.
  77. Paling sensitif kalau sudah berhubungan dengan orang tua. Kudu mewek L
  78. Aku cewek cuek tapi perasa.
  79. Aku suka dibilang lucu daripada manis.
  80. Suka nebak-nebak kepribadian orang sebelum mengenalnya.
  81. Kata Idud sih, aku orangnya mudah akrab dengan orang baru.
  82. Aku punya kado yang tak tersampaikan buat seseorang, sampai sekarang masih kusimpan.
  83. Suka hidup di tengah-tengah perbedaan.
  84. Aku punya gingsul
  85. Aku juga punya tahi lalat di perutku.
  86. Punya BB, tapi jarang aku aktifin.
  87. Kalo nggak ada kerjaan, mending tidur di kosan daripada jalan-jalan.
  88. Paling males kalau sudah dengar kata “Aku ngikut aja deh”
  89. Sebenernya nggak bisa kalau disuruh ngirit.
  90. Pernah diledekin temen gara-gara punya pacar beda jurusan waktu SMA.
  91. Cinta monyetku masih punya pacar sampai sekarang. Kadang berdoa biar mereka putus. Hahha #KetawaJahat.
  92. Benci banget kalau lihat pasangan alay mesra2an di depanku.
  93. Sering dijadiin tempat curhatan para lelaki yang sedang mencari pasangan. Padahal aku sendiri ya…???
  94. Aku sering gonta-ganti cowok,lho. Kadang sama dia, kadang sama yang itu, kadang sama yang di sana. Tepatnya bukan pacar tapi tuntutan kerjaan dan organisasi.
  95. Nyesel banget pernah ngasih saran ke anak kos buat nggak galau karena baru putus. Eh, besoknya aku yang galau gara2….
  96. Gampang kagum sama orang hebat, tapi susah jatuh cinta.
  97. Masih sering pling-plan.
  98. Jarang sarapan pagi.
  99. Aku tipe orang sederhana yang elegan.
  100. Sedang menunggu kepastian dari seseorang.
  101. Suka rindu dan kangen, tapi nggak tau sama siapa.

Now, giliran kamu Gaes.

Senin, 14 Juli 2014

Ngaku Muslim kok Nggak bisa baca Alquran (Malu dong!)


Malem Gaes, lama sekali aku tidak menyambangi rumahku yang satu ini. entah beberapa bulan ini aku semakin disibukkan dengan tugas akhir perkuliahanku dan akhirnya malas menggoreskan kata di rumah yang membesarkan aku ini. hhaha. sudah banyak sekali kisah yang lama tak kubagikan kepadamu.

Malam ini tepat tanggal 17 Ramadhan, malam turunnya Alquran yang menjadi pedoman umat muslim di dunia. aku bersyukur sekali sejak kecil sudah diajari mengenal huruf Alquran dan alhamdulillah sekarang bisa membacanya, ya walaupun tidak sebagus dan sebaik yang lain. minimal aku tahu sedikit tentang tajwid dan mahraj dalam membaca Alquran, walaupun lagi-lagi kadang belum bisa diterapkan dengan baik, tapi aku selalu belajar.

Ngiri nggak sih kamu? kalau lihat anak-anak kecil di Hafidz Indonesia, dengan usia yang masih sangat belia mereka sudah bisa menghafal ayat Alquran. kerennya mereka ternyata juga tidak sedikit yang belum bisa membaca Alquran. belum bisa baca saja sudah hafal 1 Juz atau 2 Juz Alquran, kalau sudah bisa baca pasti bisa lebih.

Hal itu bisa jadi bahan renungan kita bersama gaes, kalau belajar mambaca Alquran itu sangat penting. apalagi Alquran ini adalah pedoman hidup kita dalam menjalani kehidupan. minimal kita bisa baca dan memahami artinya. syukur-syukur bisa menghafalkannya dan yang paling keren bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. dijamin sama Allah kalau kita bakal hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Buat kamu yang belum lancar baca Alqurannya jangan malu buat belajar, meski sudah gede, kan dalam Islam tidak menutup kesempatan buat belajar buat siapa saja, karena belajar itu dari kita lahir di dunia sampai kita meninggal dunia. jadi jangan ragu dan malu buat menggali ilmu sebanyak-banyaknya.

Aku pernah belajar dari teman dekatku, kebetulan dia hafidz. menurutnya membiasakan membaca Alquran akan membuat hati kita tenang. dan sangat baik mengawali hari dengan ayat-ayat Allah, agar hari-hari kita mendapatkan ridho-Nya. istilahnya, kalau kita membaca Alquran di pagi hari, itu akan mengingatkan kita dalam melakukan kegiatan hari itu.

semoga Ramadhan kali ini bisa menyadarkan kita, sebagai bulan untuk instropeksi diri menjadi insan yang labih baik. semakin beriman kepada Allah, mengimani malaikat-malaikatnya, mencintai kitab-kitab Allah, bangga dan mengikuti jejak-jejak kebaikan para Rosul, selalu ingat kepada Hari Kiamat yang selalu menambah keimanan kita dan menerima qodha dan qodar Allah dengan lapang dada dan selalu ikhtiar dan berdoa meminta ridho-Nya.

Rabu, 06 November 2013

Kamu: Proses Terindah dalam Hidupku



Aku tidak manyangka kalau pertemuan kita selama ini akan manjadi sesuatu yang indah di akhir pertemuan kita. Tepatnya sebelum kita dipisahkan oleh jarak dan waktu. Masih ingat tidak Sayang, saat pertama kali kita dipasangkan dalam Orientasi Siswa Baru. Itu ternyata awal dari segalanya. Bagaimana aku susah payah mencari huruf demi huruf untuk menyusun namamu. Begitu pun kamu.
Aku kira itu akan selasai setelah kita sudah saling menemukan satu kata dari masing-masing nama kita. Namun, ternyata kita dipertemukan lagi dalam satu kelas untuk sama-sama mencari pencerahan dalam hidup ini. Sehari, seminggu, sebulan bahkan tiga tahun kebersamaan kita terasa menyenangkan. Canda-tawa dan kebahagian selalu kita rasakan bersama-sama. tangis dan eluh pun selalu aku ungkapkan kepadamu.
 Akhir sekolah yang menggembirakan karena kita akan terbebas dari seragam putih abu-abu. Namun, terselip duka karena aku akan berpisah denganmu. Aku melihat ada yang beda dimatamu saat itu. Mata penuh harapan, tapi harapan apa, jujur aku kurang tahu. Sampai dia mengatakan kalau dia mencintaiku sejak dulu.
Itu benar-benar kejutan terindah. Karena pikiranku akan berpisah dengannya tidak pernah terjadi. Kamu jauh tetapi semakin dekat denganku. Sesuatu hal yang paing terindah adalah saat aku bisa tertawa denganmu dalam kondisi apapun.

Kamis, 18 Juli 2013

Kondektur: Lintah Penghidap Darah Penumpang



Sore ini, Senin (15/7/2013) aku bersiap-siap dengan menggendong tas punggung abu-abuku, melangkahkan kaki keluar dari Kos Ceria, kos terbaik se-Ngaliyan (hhaha, Labay dikit biar kalau ibu kos baca, uang kos nggak jadi dinaikin). Agendaku adalah pulang kampung. Tapi sebelum pulang kusempatkan dulu singgah di markas tercinta, LPM MISSI. Kebetulan hari ini adalah agenda rapat redaksi (seminggu sekali dan setia Senin).
Matahari masih enggan mencondongkan diri ke barat. Teriak cahayanya masih sangat terasa menyengat di  kulit walaupun rambutku tak merasakan karena hijab menutupi kepalaku. Cahayanya tidak hanya menyengat kulit, mata pun tak bisa lepas dari silaunya, dan membuat aku mengecilkan pupil mataku untuk mengurangi cahaya yang masuk saat berjalan.
Untung ada angin yang tidak takut dengan teriknya matahari. Dia masih saja bermain-main dengan dedaunan rumput ataupun pohon. Rok dan hijabku pun jadi sasaran permainannya. Perjuangan langkah kakiku akhirnya sampai di markas LPM MISSI. Rapat masih dimualai dua jam lagi. Sembari menunggu, kubuka sahabat kecilku dan mulai kufokuskan mata menatap wajahnya serta tanganku mulai menggelitikinya.
Jarum pendek jam tepat di angka 2 dan jarum panjang di angka 12. Tapi di LPM MISSI baru ada lima orang. Menunggu yang lain itu yang kita lakukan sambil menonton film OZ The Great bersama di computer MISSI, hhaha. Detik berubah jadi menit dan itu selalu berulang, orang juga tak bertambah-tambah. Ya terpaksa rapat dimulai dengan orang-orang itu saja. Pembahasan yang tidak cukup menarik, dan itu selalu yang terjadi di setiap rapat redaksi adalah terlambat mengumpulkan tulisan. Sudah beberapa kali kita ganti deatline.
Sudahlah. Terlalu panjang ini prolog ya. Aku lanjutkan dengan kepulanganku ke kampung halaman yang sudah sejak dua minggu kemarin tidak kuinjakkan kaki ini.
Aku bersama temanku, Kiki, menunggu bis di tempat bias. Di pinggir jalan di depan kampusku. Nasibnya lebih beruntung dariku hari ini. dia dapat tebengan pulang. Sedangkan aku masih menunggu Om-Om ganteng yang bawa bis. Aku tak sendiri untungan, ada seorang wanita yang aku bingung harus memanggilnya Bu atau Mbak. Wajahnya masih muda, tapi penampilannya kaya ibu-ibu. Akhirnya aku panggil Bu dan kemudian berubah jadi Mbak. Hhaha (Mungkin dia juga bakal tertawa dengan panggilanku yang tak konsisten atau bahkan marah)
Tik, tok, tik, tok…. Detik sudah  berubah jadi menit-menit tapi belum sampai jadi jam, bis yang kutunggu datang. Mbak Bu yang tadi bersamaku mengajakku naik ke bis yang dari kejauhan tampak namanya “Tiara Sahabat”. Aku masuk dari pintu belakang. Alhamdulillah masih ada kursi yang bisa kududuki. Beberapa detik belum sempat aku menghembuskan nafas ketigaku. Dia datang, iya. Sang kondektur. Berperawakan besar, tinggi, dan dengan perut buncitnya. Di lehernya juga terlihat kalung rantai mirip punya Si Putih, kucingku.
Sampailah dia dihadapanku.
“Kemana Mbak?” Tanyanya kaku tanpa menggerakkan bibirnya simetris.
“Banyuputih Pak,” kujawab seadanya.
“20 ribu” katanya singkat, dan membuat aku berpikir di dalam dompetku. Gila nih orang. Tarifnya sama kaya ku naik bis AC kemarin aja.
“Biasanya kan 15 ribu Pak” aku mencoba menegonya.
Tanpa mengucap apapun, dia masih menodongkan tangannya dengan wajah datar tapi penuh kerutan.

“Bentar Pak.” Aku mencari dompet lain, karena di dompet kuningku hanya ada 12 ribu rupiah. Untungan masih ada dua lembar 5 ribu di dompetku.
Beda dengan aku dan penumpang lain yang dengan sadar tetap memberikan uang yang diaminta walaupun terkesan terlalu banyak dan dengan pemaksaan. Wanita yang tadi bersamaku menolak memberikan uang lebih. Dia pun turun dengan terhormat menurutnya.
SubhanaAllah, aku hanya menaikkan bibirku simetris ke kanan dan kiri. Sedikit doa untuknya semoga dia dapat bis yang lebih baik dan sampai tempat tujuan dengan selamat. Amien. Kalau tidak karena sudah sore, aku pun mungkin akan melakukan hal itu.
Bukan hatiku saja yang dibuatnya menghitam. Bapak-bapak yang duduk di sampingku pun mengeluh. Apalagi setelah melihat dia dengan sengaja mengambil sebotol aqua dan meminumnya di depan para penumpangnya. Ini menguatkan tuduhan bapak yang duduk di sampingku kalau uang yang dia minta tidak sepenuhnya dibayarkan untuk setoran bisnya. Menurutnya sekitar 5-10 ribu dia kantongin sendiri.
Astagfirullah, apapun akan manusia lakukan demi memenuhi kebutuhannya. Walaupun harus merugikan orang lain. Semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang seperti itu. Amien