Sabtu, 30 Juni 2012

DA’I POPULER DAN DA’I SELEBRITIS


 (Antara Idealisme atau Popularitas)
Fenomena aneh di zaman sekarang, pelaksana dakwah (dai) yang dulunya pamali untuk dibicarakan kehidupannya atau mengungkap aibnya karena merupakan pemuka agama. Dai (ustadz atau Kyai) adalah orang yang sangat idealis terhadap agama Islam. Tapi, lihat para dai yang wira-wiri di media terutama televisi, layaknya selebritis semua kehidupannya dipamerkan, tragisnya aib sang dai pun sudah menjadi konsumsi masyarakat. “Yang penting bisa muncul di layar televisi dan dikenal masyarakat luas. Masalah isi dakwah sudah ada skenarionya.” Mungkin pikiran para selebritis dakwah.
Bukan hanya itu, orientasi dakwah para dai masa kini sepertinya sudah berbelok dari tujuan awal yaitu menyebarkan nilai-nilai Islam. Tapi sekarang lebih mengarah ke hiburan sehingga muncul dai-dai yang bukan berceramah tetapi melawak karena komposisi lawakannya lebih banyak daripada pesan dakwahnya. “Yang penting jamaah senang dengan dengan penampilan dai, masalah isi sedikit saja.” Pikiran dai populer yang mementingkan kesenangan, parahnya harus sesuai tarif.
Dua fenomena ini menggambarkan proses dakwah Islam saat dulu di zaman Rasulullah dan Sahabat, berbeda jauh dengan zaman sekarang yang dakwahnya sudah terpengaruh berbagai faktor seperti merajalelanya budaya populer (budaya yang diciptakan untuk menimbulkan kesenangan) dari asal kata populer yang memiliki empat makna yakni: (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (4) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri (Williams, 1983: 237).
Perkembangan teknologi dalam berdakwah, munculnya media massa untuk berdakwah, sehingga dakwah dikemas sesuai dengan keinginan media atau sebaliknya karena permintaan masyarakat yang mayoritas Islam menjadikan media massa harus menyesuaikan dan menayangkan apa yang diinginkan, dan komersialitas media ikut berpengaruh.
Masalahnya, paradigma masyarakat sekarang lebih praktis dan haus akan hiburan. Sehingga televisi sebagai media massa elektronik yang menyiarkan secara audio visual kepada khalayak. Fungsi televisi sebagai media informasi, edukasi, hiburan dan pembinaan kebudayaan direalisasikan dalam program-program acara seperti berita, reality show, film, sinetron, infotainment, religi, komedi, dsb,. Menjadikan fungsi televisi sebagai media hiburan menduduki posisi yang paling tinggi dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain.
 Ini membuat media massa televisi saat ini terjebak dalam mindstream latah yang berkembang dimasyarakat, namun sepertinya media televisi merasa lebih aman ketika menjual mindstream dari pada bersusah-susah melakukan uji coba terhadap acara-acara baru (Bungin, 2005: 174). Ketika satu stasiun televisi berhasil dengan program acaranya, stasiun televisi lain pasti akan meniru dengan kemasan yang lebih menarik.

Dai Populer, Dai Selebritis dan Selebritis Dakwah
Televisi yang sudah terpengaruh oleh paradigma budaya populer, dan apalagi agama sudah mempengaruhinya dalam menanyangkan tanyangan yang sesuai dengan keinginan khalayak. Perpaduan kedua hal tersebut, menjadi sesuatu tanyangan islami yang menyenangkan.
Lihat program-program religi yang ada di televisi kita dalam hal dakwah ceramah, contohnya program acara seperti kuliah Subuh  yang dimodifikasi dengan penampilan yang menarik atau kegiatan ceramah dengan audien yang disertai tanya jawab secara langsung seperti Indosiar sukses menayangkan Mama Dedeh dan AA dalam Solusi Keluarga sakinah, maka stasiun televisi lainnya pun menyusul program acara yang serupa. Sebagaimana di MNC TV dengan ustadz Cepot, Trans TV dengan Islam Itu Indah bersama Ustadz Maulana, SCTV dengan ustadz Solmed, di ANTV bahkan kontes Da’i muda pilihan pun ikut meramaikan program televisi yang bernuansa religi Islam.
Ustadz ataupun Ustadzah yang muncul di layar televisi inilah yang menjadi masalah, mangapa demikian? Karena seringnya dia masuk televisi, eksistensinya tidak kalah dengan selebritis. Bahkan mereka diperlakukan media seperti selebritis.
Sebelumnya, penulis akan membedakan antara dai populer, dai selebritis dan selebritis dakwah. Pertama, Dai Populer berdasarkan pengertian dari budaya populer adalah pelaksana dakwah  yang menyampaikan caramahnya untuk menghibur jamaahnya. Jadi kurang mementingkan isinya.
Kedua, Dai Selebritis adalah pelaksana dakwah yang menyampaikan ceramahnya di media massa, selalu diekspos kehidupannya. Dengan kata lain dai seperti selebritis. Ketiga, selebritis dakwah merupakan artis yang punya peran di dunia religi, misal dia bukan dai tapi tiba-tiba menjadi dai karena skenario.
Tiga unsur ini yang digunakan media untuk meramaikan pertelevisian Indonesia. Tapi yang menjadi permasalahan terutama di kalangan kaum Islam mereka membuat citra Islam tentang pelaksana dakwah (dai) rendah dengan adanya gosip atau isu yang memojokan terus menerus menimpa para ustadz-ustadz yang sering terlihat dilayar televisi.
Image dakwah Islam sekarang sudah jarang ditemui para ustadz tua dengan sarung dan pecisnya. Da’i yang keliling kampung, masuk gang demi gang. Akan tetapi yang muncul saat ini ustadz yang berpenampilan gaul. Gaya bahasa yang ringan dan komunikatif. Dakwah disampaikan lewat media televisi yang bisa menyedot jutaan penonton di waktu yang singkat. Itu merupakan suatu kemajuan tersendiri dalam dunia dakwah.
Namun, Dai populer bukan hanya dai yang sering muncul di televisi saja, pernah penulis mengikuti pengajian di desa, ternyata cara penyampaian dakwahnya pun lebih mementingkan unsur guyonan atau nyanyian agar jamaah senang. Dan jamaah memang senang, bahkan jamaah tidak ingat materi yang disampaikan, yang diingat adalah guyonan dan nyanyiannya.
Idealisme atau Popularitas
Islam bukan hanya dianggap menjadi agama yang suci sebagai pedoman kelak di akhirat. Tapi, Islam sudah menjadi gaya hidup seseorang, bahkan tragisnya Islam juga sebagai alat mencari kebahagiaan yang fana (baca: sementara). Dalam artian Islam telah dijadikan nama samaran seseorang atau lembaga untuk mendapatkan materi (Islam dikomersialkan).
Padahal, tujuan utama dai berdakwah agar terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat yang diridhai Allah SWT. Dan idealisme dai yaitu mewujudkan hal itu, menyebarkan nilai-nilai Islam untuk memperkuat keimanan.
Sedangkan, popularitas merupakan sifat keduniaan berupa ketenaran, atau orientasinya pada kebahagiaan di dunia saja. Sehingga ini yang menyebabkan munculnya sifat hedois sebagai bentuk materialisme sesorang termasuk dalam kasus ini dai. Fenomena adanya dai populer dan dai selebritis seolah-olah memang hanya mengejar popularitas dan materi saja.
Idealisnya materi dakwah yang disampaikan harus menjadi perhatian pertama oleh dai, tidak harus materi yang berat dan tinggi, bisa mengenai muamalah, kehidupan sehari-hari dan sebagainya. kutipan ayat Al-Qur’an atau Hadits-nya sesuai, tahu asbabun nuzul dan wurudnya,. Misal itu hadits harus paham kualitas hadits tersebut apakah shohih, hasan, dhoif atau bahkan hadits palsu. Oleh karena itu ustadz-ustadz atau da’i yang sudah populer itu seharusnya harus diimbangi pula dengan ilmu pengetahuan yang memadai. Agar dalam menyampaikan dakwah Islam yang tidak menyesatkan.
Namun, karena masyarakat senang ketika para ustadz gaya ceramahnya santai dan ringan, aksi panggungnya menarik, penampilannya meyakinkan. Membuat idealisme dai luntur. Mareka hanya mementingkan luar bukan dalamnya (pesan dakwah).
Ustadz Solmed (Sholeh Mahmoed)
Pembahasan tentang “dai selebritis” untuk lebih memahamkan, penulis ambil contoh Ustadz Solmed. Siapa sebenarnya dia sampai dikatakan sebagai dai selebritis yang namanya tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.
Pria kelahiran Jakarta 29 tahun silam, awalnya bukan seorang public figure bahkan bukan siapa-siapa. Namanya mulai terkenal di kalangan masyarakat sekelilingnya setelah mendapat gelar Juara Umum Lomba Pidato atau Ceramah tingkat Nasional yang diselenggarakan Masjid Istiqlal Jakarta. Prestasinya itu membuat pria bernama asli Sholeh Mahmoed ini semakin percaya diri untuk berceramah dari satu mushola ke mushola lainnya.
Suatu ketika dia bertemu dengan Ustad Jeffri Al Buckhori (UJE) di acara tabligh Akbar. Pertemuan singkat itu ternyata berkelanjutan sehingga pria yang pernah menempuh pendidikan Hukum Politik di Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta ini, untuk pertama kalinya tampil di layar televisi dalam acara religi Damai Indonesiaku di TV ONE sebagai teman duet UJE.
Gaya ceramahnya yang menarik, gaul serta tampang yang bisa dijual membuat banyak stasiun televisi melirik ustadz muda ini untuk bekerjasama mengisi program religinya seperti Assalamu’alaikum Ustadz di RCTI, Cahaya Hati di ANTV, Titipan Qolbu di TV ONE, Teropong Iman di Trans TV serta Kata Ustadz Solmed di SCTV.
Berbagai program acara di stasiun televisi pernah dibawakan, kehidupan pribadinya juga ikut diberitakan dalam gossip selebritis. Sebagaimana ketika dekat dengan Syahrini, kemudian pacaran dengan April, Pernikahannya, Perceraiannya dengan Istri pertama, membelikan rumah dengan harga milyaran, saat umroh, menyumbangkan sebagian hartanya kepada anak yatim dan lain sebagainya. Ini sangat bertolak belakang dengan apa yang diceramahkan.
Kehidupan mewah ustadz Solmed sebanarnya jauh dari konsep kesederhanaan yang mungkin pernah dia ceramahkan. Gaya berbusananya yang menjadi ciri khasnya terihat bahwa ia memperhatikan tren busana para ustadz.
Menanggapi gosip-gosip seperti itu kalau yang baik pasti mau diekspos dan diwawancarai langsung, tapi ketika gosip itu buruk, sang Ustadz pun akan berhati-hati menjawab serbuan pertanyaan dari wartawan, contoh kutipan perkataan ustadz Solmed “Kalau ada seribu cacian, saya sudah menyiapkan dua ribu maaf.”
Sekalipun ada pemberitaan miring tentang Ustadz Solmed, pesonanya cukup membuat antusias masyarakat ketika ia hadir dalam suatu majlis taklim. Masyarakat berbondong-bondong datang, seolah-olah  mereka hanya memandang ketokohan da’i itu saja. Padahal dalam Islam diajarkan bahwa dalam menimba ilmu kita jangan lihat siapa yang menyampaikan tetapi apa yang disampaikan. Pemandangan yang tidak asing lagi diakhir acara pasti ada waktu buat foto bersama, memang seperti artis.
Materi dakwah yang disampaikan oleh Ustadz Solmed ringan dan sederhana, tentang kehidupan sehari-hari. Ya layaknya ustadz-ustadz yang lain. tapi dari segi penampilan dan aksi panggung dia memang memiliki ciri khas sendiri dengan gaya “All you ready” ketika akan memulai ceramahnya.
Yang jelas ketika dihadapan media semua ustadz-ustadz selebritis itu tetap menjaga sikapnya. Baik ini pura-pura atau memang dari dalam hati yang terdalam ikhlas berjuang di jalan Allah melalui ceramah. Masalah itu adalah rahasia pribadi dan Tuhan.
Dai Juga Manusia Biasa
Melihat kejadian ini, ustadz yang menjadi selebritis memang sudah mempunyai tempat di hati masyarakat. Seperti bukan manusia biasa lagi. mengingat Rasulullah saja manusia biasa, apalagi seorang dai di zaman sekarang. Dan wajar sebagai orang biasa, seseorang mempunyai keinginan untuk menjadi terkenal dan punya materi yang banyak. Akan tetapi harus bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seperti Rasulullah, ketika jadi khalifah, ya memimpin umatnya. Ketika jadi panglima perang, ya memimpin perang, ketika jadi kepala rumah tangga, ya mengurusi dan membimbing keluarganya.
Memang dengan menjadi terkenal, seorang dai dalam menyampaikan dakwah akan lebih mempunyai banyak jamaah. Dalam konteks dakwah lintas budaya, seorang dai selebritis penulis kira sangat umum, karena mereka menggunakan bahasa gaul, permasalahan-permasalahan modern yang belum tentu menjangkau seua elemen. Sedangkan di setiap daerah terkadang tidak biasa dengan ceramah yang seperti itu. Jadi dai selebritis hanya sebagai penghibur.
Adanya dai populer, dai selebriti dan selebritis dakwah memerlukan pemantauan dan pengontrolan juga dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) DAN JUGA MUI untuk kegiatan dakwah di televisi sehingga tidak menyalahi syariah dan sesuai dengan etika dakwah.
Menjaga idealisme memang sulit, untuk menghindari citra buruk terhadap agama Islam. Mengambil jalan aman saja, ketika memang ingin terjun ke dunia selebritis mending jangan memakai nama dai. Namun, tetap menyebarkan nilai-nilai kebaikkan harus tetap dijaga. Sehingga antara Agama bukan sebagai alat untuk mencari pekerjaan, materi atau popularitas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar